Thursday, January 12, 2017

Gerakan Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia

Gerakan Gerakan Pembaruan Islam di Nusantara- Gerakan pembaruan di indonesia merupakan salah satu contoh berkembangnya islam di indonesia. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada masyarakat yang statis, semua pasti mengalami perubahan dan perkembangan. Secara garis besar ada dua bentuk gerakan pembaharuan islam di indonesia. yang pertama adalah Gerakan pendidikan dan sosial, dan yang ke dua adalah Gerakan Politik. dan sekarang mari kita simak apa saja Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia yang memang sangat berpengaruh dalam kehidupan berbangsa hingga sampai saat ini

1. Gerakan Pendidikan dan Sosial.

Kaum pembaharu memandang, betapa pentingnya pendidikan dalam membina dan membangun generasi muda. Mereka memperkenalkan sistem pendidikan sekolah dengan kurikulum modern untuk mengganti sistem pendidikan Islam tradisional seperti pesantren dan suaru. Melalui pendidikan pola pikir masyarakat dapat di ubah secara bertahap. oleh sebab itu, mereka mendirikan lembaga pendidikan dan mengembangkan organisasi sosial kemasyarakatan. Di antaranya sebagai berikut.

a. Sekolah Thawalib

Gerakan Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia
source img : http://www.pojokpitu.com

Sekolah ini berasal dari suaru jembatan besi. Suaru berarti langgar atau masjid. Lembaga pendidikan surau berarti pengajian di Masjid, mirip dengan pesantren di Jawa. Haji Abdullah Ahmad dan Haji Rasul pada tahun 1906 telah merintis perubahan "sistem surau" menjadi sistem sekolah. Pada tahun 1919 Haji Jalaludin Hayib menerapkan sistem kelas dengan lebih sempurna.

Ia mengharuskan pemakaian bangku dan meja, kurikulum yang lebih baik, dan kewajiban pelajar untuk membayar uang sekolah. Selain itu kepada para pelajar pun diperkenalkan koperasi pelajar guna memenuhi kebutuhan sehari hari mereka. Koperasi ini berkembang menjadi organisasi sosial yang menyantuni sekolah Thawalib dengan nama Sumatera Thawalib. Sejak itu organisasi ini tidak lagi dipimpin oleh murid, tetapi oleh guru.

Pada tahun 1929 organisasi Thawalib memperluas keanggotannya. Tidak hanya guru dan murid di sekolah itu, melainkan juga para alumni. Selain itu, keanggotaan pun terbuka bagi mereka yang bukan murid, guru dan alumni atau mereka yang tidak memiliki hubungan apapun dengan sekolah Thawalib.

Organisasi Sumatera Thawalib berkembang menjadi sebuah organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang pendidikan dan Sosial. Akhirnya organisasi ini berkembang menjadi organisasi politik dengan nama Persatuan Muslimin Indonesia, disingkat Permi. Permi merupakan partai islam politik pertama di indonesia. Asas Permi tergolong modern. Bukan hanya Islam, tetapi juga Islam dan Nasionalis

b. Jamiat Khair


Gerakan Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia
source img : https://ensiklopebanten.wordpress.com

Organisasi ini didirikan di Jakarta oleh Masyarakat Arab Indonesia pada tanggal 17 juli 1905. Di antara pendirinya adalah Sayid Muhammad Al Fachir bin Syihab, Sayid Idrus bin Ahmad bin Syihab, dan Sayid Sjehan bin Syihab. Semuanya termasuk golongan sayyid, yaitu kaum ningrat atau bangsawan arab.

Ada dua program yang diperhatikan Jamiat Khair, mendirikan dan membina sekolah dasar, serta menyeleksi dan mengirim para pelajar untuk mengikuti pendidikan di Turki. Jamiat Khair tidak hanya menerima murid keturunan Arab, tetapi juga untuk umum.

Bahasa Belanda tidak diajarkan karena bahasa penjajah, tetapi diganti dengan bahasa inggris. Dengan menguasai bahasa Inggris, para alumni lembaga pendidikan Jamiat Khair diharapkan dapat mengikuti kemajuan Zaman

c. Al-Irsyad

Gerakan Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia
source img :  http://bingkaikuno.blogspot.co.id

Organisasi sosial ini didirikan oleh kaum pedagang Arab di Jakarta. Al-Irsyad memusatkan perhatiannya pada bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah an perpustakaan. Sekolah Al-Irsyad banyak jenisnya. Ada sekolah tingkat dasar, sekolah guru dan program takhassus memperdalam agama dan bahasa asing. Cabang cabang Al-Irsyad segera dibuka di Cirebon, Pekalongan, Bumiayu, Tegal, Surabaya, dan Lewang.

Aktivitas organisasi ini lebih dinamis daripada Jamiat Khair, walaupun keduanya sama sama didirikan oleh bangsa arab. jika Jamiat Khair dikuasai oleh golongan sayyid atau ningrat. Al-Irsyad sebaliknya, menolak adanya perbedaan atau diskriminasi antara kaum elite dengan golongan alit (kecil). Al-Irsyad tidak dapat dipisahkan dengan Syaikh Ahmad Syoorkatti. Ia seorang Arab keturunan Sudan yang menghembuskan semangat pembaruan dan persamaan dalam tubuh Al-Irsyad.

d. Persyarikatan Ulama

Organisasi sosial kemasyarakatan ini semula bernama Hayatul Qulub, didirikan di Majalengka, Jawa barat, oleh K.H. Abdul Halim pada tahun 1911. Kiai Halim adalah alumni Timur Tengah. Ia menyerap ide ide pembaruan yang dihembuskan oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani, dua tokoh pembaruan di Mesir.

Hayatul Qulub memusatkan perhatiannya pada bidang pendidikan, sosial dan ekonomi. Sejak 1917 namanya diubah menjadi Persyarikatan Ulama. Perubahan nama ini memiliki dua tujuan, yaitu menyatukan para ulama dan mengajak mereka untuk menerapkan cara cara modern dalam mengelola pendidikan.

Ada dua sistem pendidikan yang diperkenalkan Kiai Halim: "Sistem madrasah" dengan "Sistem Asrama". Lembaga pendidikan dengan sistem madrasah dan sistem asrama diberi nama "Santri Asromo". Dibagi kedalam tiga bagian : tingkat permulaan, dasar, dan lanjutan.

Santri Asromo memiliki kelebihan, yaitu kurikulumnya memadukan pengetahuan agama dan umum seperti pada sistem madrasah sekarang. Para pelajar Santri Asromo juga dilatih dalam pertanian, keterampilan besi dan kayu, menenun dan mengolah bahan seperti membuat sabun. Mereka tinggal di asrama dengan disiplin yang ketat.

Persyarikatan Ulama memiliki ciri khas, mempertahankan tradisi bermazhab dalam fiqih; tetapi menerapkan cara cara modern dalam pendidikan. Pada tahun 1952 Persyarikatan Ulama diubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) setelah difusikan dengan Al-Ittihad al-Islamiyah (All) atau persatuan Islam. All didirikan dan dipimpin oleh K.H. Ahmad Sanusi yang berpusat di Sukabumi, Jawa Barat.

e. Nahdatul Ulama (NU)

Gerakan Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia
source img : pkbdemak.wordpress.com

Dikalangan pesantren dalam merespon kebangkitan nasional, membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdatul Wa an (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian pada tahun 1918 mendirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan Kaum santri. Dari Nahdatul Fikri kemudian mendirikan Nahdatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar).

Serikat ini dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdatut Tujjar, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota

Perkembangan selanjutnya, untuk membentuk organisasi yang lebih besar dan lebih sistematis, serta mengantisipasi perkembangan zaman, maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernaman Nahdatul Ulama (Kebangkitan Ulama).

Nahdatul Ulama didirikan pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar. Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka K.H Hasyim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (Prinsip Dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqd Ahlussunnah Wal Jama'ah. Kedua kitab tersebut kemudian di implementasikan dalam khitta NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Organisasi ini bertujuan untuk menegakkan ajaran islam menurut paham kita I'tiqad Ahlussunnnah Wal Jama'ah di tengah tengah kehidupan masyarakat, didalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk mencapai Tujuannya tersebut, NU menempuh berbagai jenis usaha di berbagai bidang, antara lain sebagai berikut :

1. Di bidang keagamaan, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.

2. Dibidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai nilai islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Hal ini terbukti dengan lahirnya lembaga lembaga pendidikan yang bernuansa NU dan suda tersebar diberbagai daerah khususnya di pulau jawa bahkan sudah memiliki cabang di luar negri.

3. Dibidang Sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.

4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempata untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat. Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Bidang Keuangan lain yang telah terbukti membantu masyarakat.

5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

f. Muhammadiyah

Gerakan Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia
source img : wikipedia

Organisasi ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan. Kegiatan Muhammadiyah dipusatkan dalam bidang pendidikan, dakwah dan amal sosial. Muhammadiyah mendirikan berbagai sekolah islam ala Belanda, baik dalam satuan pendidikan, jenjang maupun kurikulumnya. Muhammadiyah pun menerima subsidi dari pemerintah Belanda.

Organisasi ini sangat menekankan keseimbangan antara pendidikan agama dan pendidikan umum, serta pendidikan keterampilan. Para alumni lembaga pendidikan Muhammadiyah diharapkan memiliki aqidah Islam yang kuat, sekaligus memiliki keahlian untuk hidup di zaman modern.

Dengan bekal aqidah, pendidikan dan keterampilan yang baik, kaum muslimin dapat mengembangkan kualitas hidup mereka sesuai dengan tuntutan ajaran al-Qur'an. Bahkan sampai sekarang, Muhammadiyah merupakan ormas islam besar yang memiliki satuan satuan pendidikan sejak dari Taman kanak-kanak hingga Program Pasca sarjana.

Dalam bidang amal sosial, Ormas islam ini memiliki antara lain beberapa puluh rumah sakit, Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dan Panti Asuhan. Gerakan dakwah Muhammadiyah sangat menekankan kemurnian aqidah; memerangi berbagai perbuatan syirik, menyekutukan Allah.dalam segala bentuknya; menentang takhayul; khufarat dan perbuatan bid'ah serta mengikis habis kebiasaan taqlid buta dalam beragama. Muhammadiyah, menekankan pentingnya membuka pintu ijtihad dalam bidang hukum islam agar umat islam terbebas dari taqlid buta serta menolak tradisi bermazhab dalam fiqih.

2. Gerakan Politik

Islam tidak dapat menerima penjajahan dalam segala bentuk. Perjuangan umat islam dalam mengusir penjajah sebelum abad dua puluh dilakukan dengan kekuatan senjata dan bersifat kedaerahan. Pada awal abad dua puluh perjuangan itu dilakukan dengan mendirikan organisasi modern yang bersifat nasional, baik ormas maupun orsospol.

Melalui pendidikan, ormas memperjuangkan kecerdasan bangsa agar sadar tentang hak dan kewajiban dalam memperjuangankan kemerdekaan. Dengan orsospol, kaum muslimin memperjuangkan kepentingan golongan islam melalui saluran politik yang diakui pemerintah penjajah. Mereka misalnya berjuang melalui parlemen belanda yang disebut Volksraad.

Diantara partai politik islam yang tumbuh sebelum zaman kemerdekaan adalah Persaudaraan Muslimin Indonesia (Permi), Sarikat Islam (SI), dan Partai islam Indonesia (PII). SI didirkan di Solo pada tanggal 11 November 1911 sebagai kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16 oktober 1905.

SI kemudian berubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Partai Islam Masyumi pada awal berdirinya merupakan satu satunya Partai politik Islam yang diharapkan dapat memperjuangkan kepentingan seluruh anggota umat islam dalam negara modern yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Masyumi merupakan parta federasi yang menampung semua golongan tradisional.