Friday, November 11, 2016

Politik Luar Negeri Indonesia Masa Soekarno (Demokrasi Terpimpin)

Politik Luar Negeri Indonesia Masa Soekarno (Demokrasi Terpimpin) - Pada masa demokrasi terpimpin (1959-1965), politik luar negeri indonesia bersifat high profile, flamboyan dan heroik yang diwarnai sikap anti imperialisme dan kolonialisme serta bersifat konfrontatif. Politik luar negeri indonesia pada era ini, diabadikan pada tujuan nasional indonesia. Pada saat itu kepentingan nasional indonesia adalah pengakuan kedaulatan politik dan pembentukan identitas bangsa. Kepentingan nasional itu diterjemahkan dalam suatu kebijakan luar negeri yang bertujuan untuk mencari dukungan dan pengakuan terhadap kedaulatan indonesia, dan untuk menunjukkan karakter yang dimiliki pada bangsa bangsa lain di dunia internasional.

Politik Luar Negeri Indonesia Masa Soekarno (Demokrasi Terpimpin)
 source img : wikipedia.com

Politik luar negeri indonesia pada masa ini juga bersifat revolusioner. Presiden soekarno dalam era ini berusaha sekuat tenaga untuk mempromosikan indonesia ke dunia internasional melalui slogan revolusi nasionalnya yakni Nasakom (nasionalis, agama dan komunis) dimana elemen elemen ini diharapkan dapat beraliansi untuk mengalahkan Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). dari sini dapat dilihat adanya pergeseran arah politik luar negeri indonesia yakni condong ke Blok Komunos, baik secara domestik maupun internasional. Hal ini dilihat dengan adanya kolaborasi politik antara indonesia dengan China dan bagaimana Presiden Soekarno mengijinkan berkembangnya Parta Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia. Alasan soekarno mengijinkan perluasan PKI itu sendiri adalah agar komunis mampu beraliansi dengan revolusi indonesia dan tidak merasa dianggap sebagai kelompok luar.

Ketidaksukaan Soekarno terhadap Imperialisme juga dapat dilihat dari responnya terhadap keberadaan belanda di Irian Barat. Tindakan militer diambil untuk mengabmil alih kebali Irian barat ketika diplomasi dianggap gagal. Dukungan Amerika Serikat yang kemudian didapatkan Soekarno muncul sebagai akibat konfrontasi kedekatan Jakarta dengan Moskow. Taktik konfrontatif ini kemudian digunakan kembali oleh Soekarno ketika terjadi konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia akibat pembentukan negara federasi Malaysia dianggap Indonesia pro terhadap Imperialisme Barat. Puncak ketegangan terjadi ketika Malaysia ditetapkan sebagai Anggota tidak Tetap Dewan Keamaan PBB.Hal ini meyulut kemarahan Indonesia. Hingga akhirnya pada 15 september 1965 indonesia keluar dari PBB karena Soekarno beranggapan bahwa PBB berpihak pada Blok Barat. Mundurnya indonesia dari PBB berujung pada terhambatnya pembangunan dan modernisasi indonesia karena menjauhnya indonesia dari pergaulan Internasional.

Presiden Soekarno memperkenalkan doktrin Politik baru berkaitan dengan sikap konfrontasi penuhnya terhadap imperialisme dan kolonialisme. Doktrin itu mengatakan bahwa dunia terbagi dalam dua blok, yaitu "Oldefos" (Old Established Forces) dan "Nefos" (New Emerging Forces). Soekarno menyatakan bahwa ketegangan ketegangan di dunia pada dasarnya akibat dari pertentangan antara kekuatan kekuatan orde lama (Oldefos) dan kekuatan kekuatan yang baru bangkit atau negara negara progresif (Nefos). Imperialisme, Kolonialisme dan Neokolonialisme merupakan paham paham yang dibawa dan dijalani oleh negara negara kapitalis Barat. Dalam upayanya mengembangkan Nefos, presiden Soekarno melaksanakan politik Mercusuar bahwa indonesia merupakan mercusuar yang mampu menerangi jalan bagi Nefos di seluruh Dunia.salah satu tindakan usaha penguatan eksistensi indonesia dan Nefos juga dapat dilihat dari pembentukan poros Jakarta - Peking yang membuat indonesia semakin dekat dengan negara  negara sosialis dan komunis seperti China.

Faktor dibentuknya poros ini antara lain, pertama, karena konfrontasi dengan Malaysia menyebabkan indonesia membutuhkan bantuan militer dan logistik, mengingat malaysia mendapat dukungan penuh dari Inggris, Indonesia pun harus mencari kawan negara besar yang mampu mendukungnya dan bukan sekutu inggris, salah satunya adalah China, kedua indonesia perlu untuk mencari negara yang mau membantunya dalam masalah dana dengan persyaratan yang mudah, yakni negara China dan Uni Soviet.

Politik Luar negeri pada masa demokrasi terpimpin juga ditandai dengan usaha keras presiden soekarno membuat indonesia semakin dikenal di dunia internasional melalui beragam konferensi internasional yuang diadakan maupun diikuti indonesia. Tujuan Awal dari dikenalnya Indonesia adalah mencari dukungan atas usaha dan perjuangan Indonesia merebut dan mempertahankan Irian Barat. Namun seiring berjalannya waktu, status dan prestis menjadi fakto faktor pendorong semakin gencarnya soekarno melaksanakan aktivitas politik luar negeri ini. Efek samping dari kerasnya usaha ke luar soekarno ini adalah ditinggalkannya masalah masalah domestik seperti masalah ekonomi.

Soekarno beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi pada fase awal berdirinya suatu negara adalah hal yang tidak terlalu penting. Beliau beranggapan bahwa pemusnahan pengaruh pengaruh asing baik itu dalam segi politik, ekonomi, maupun budaya adalah hal hal yang harus diutamakan dibandingan dengan pertumbuhan ekonomi domestik. Seoarkno gencar melancarkan politik luar negeri aktif namun tidak di imbangi dengan kondisi perekonomian dalam negeri yang pada kenyataanya morat marit akibat inflansi yang terjadi secara terus menerus, penghasilan negara merosot sedangkan pengeluaran untuk proyek proyek politik mercusuar seperti GANEFO,dan CONEFO terus membengkak Hal inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu penyebab krisis politik dan ekonomi indonesia pada masa akhir pemerintahan Demokrasi Terpimpin