Perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

Masuknya pengaruh budaya India, mengubah sistem kemasyarakatan yang telah ada. Golongan yang memegang kekuasaan dahulunya adalah ketua suku, ketua adat, dengan gelar datuk atau ratu, dan raja. Pada saat itu, pergantian pimpinan dilakukan berdasarkan kelebihan kemampuan seseorang dibanding yang lain. Hal ini dikenal dengan istilah primus interpares (yang pertama atau utama dari sesamanya). Namun, dengan adanya pengaruh India, pimpinan dipilih berdasarkan keturunan atau pertalian darah. Hubungan penguasa dengan rakyatnya berdasarkan kewibawaan dan kehormatan.

Selanjutnya, sistem pemerintahan diatur oleh suatu sistem kerajaan. Hubungan penguasa dengan kawula berdasarkan hubungan yang memerintah dengan yang diperintah. Pergantian pimpinan berdasarkan keturunan. Gelar penguasa disebut raja atau maharaja.

Dalam sistem pemerintahan Hindu-Buddha di Indonesia, raja tidak memerintah dengan kekuasaan tunggal dan mutlak seperti di India. Namun, sistem pemerintahannya terdiri atas daerah-daerah yang diperintah oleh rakaiatau rakryanyang memiliki otonomi cukup luas. Namun, para rakai itu umumnya masih memiliki hubungan keluarga dengan raja, baik itu hubungan saudara (satu keturunan) maupun melalui perkawinan.

Agar lebih jelas, kamu dapat menyimak uraian perkembangan sistem pemerintah pada kerajaan-kerajaan berikut ini:

a. Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan yang terletak di Kalimantan Timur ini berdiri pada tahun 400 Masehi. Raja yang pertama Kundunga. Dilihat dari namanya, raja tersebut tidak beragama Hindu karena nama tersebut merupakan nama Indonesia asli. Pengaruh Hindu mulai tampak sejak Asmawarman, anak Kundunga, menjadi raja, yaitu dipergunakannya nama yang berbau India. Oleh karena itu, yang dianggap sebagai pendiri kerajaan adalah Asmawarman, dan bukan Kundunga sendiri.

Pada masa Mulawarman, Kutai mengalami kejayaan. Sang raja menaklukkan wilayah-wilayah di sekitarnya untuk memperluas kekuasaannya. Mulawarman sangat dihormati oleh rakyatnya. Ini terbukti dengan dibangunnya beberapa Yupa sebagai pernyataan terima kasih atau penghormatan kepada sang raja. Selain itu, hubungan dengan negara lain juga terjalin dengan baik, terutama dalam bidang perdagangan dan keagamaan. Dengan diketemukannya prasasti Mulawarman maka berakhirlah masa praaksara di Indonesia.

b. Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara terletak di Jawa Barat, tepatnya di tepi Sungai Cisadane (sekitar Bogor sekarang). Kerajaan ini berkembang sekitar abad VI–VII Masehi. Kerajaan Tarumanegara mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Purnawarman. Dalam masa pemerintahannya, Tarumanegara menjalin hubungan yang erat dengan negara-negara tetangga lainnya. Buktinya dapat dilihat dari berita-berita Cina yang ditemukan sebagai tanda keberadaan kerajaan ini. Masyarakat Tarumanegara menganut dua agama, yaitu Hindu dan kepercayaan asli setempat.

c. Kerajaan Mataram Kuno

Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah. Menurut prasasti-prasasti yang telah ditemukan, seperti prasasti Canggal dan Mantyasih, Mataram Kuno diperintah oleh Dinasti Sanjaya. Namun, menurut prasasti Hampran, Kalasan, dan Sojomerto, Dinasti Syailendra-lah yang memegang pemerintahan atas Kerajaan Mataram Kuno. Kedua pendapat tersebut tidaklah salah karena keduanya berasal dari satu keturunan yang sama.

Raja terbesar di kerajaan ini adalah Rakai Sanjaya. Beliau memeluk agama Hindu Siwa. Selanjutnya, beliau digantikan oleh Rakai Panangkaran. Dalam masa pemerintahannya banyak mendirikan berbagai bangunan suci Hindu dan Buddha dalam bentuk candi.

Mataram Kuno juga pernah melakukan perluasan kekuasaan sampai di Galuh, Sunda, dan Jawa Timur. Mataram Kuno pernah diperintah oleh Samaratungga dan Pramodhawardhani. Adik tiri Pramodhawardhani yang bernama Balaputradewa diusir hingga ke tanah Sumatra dan kelak mendirikan Sriwijaya.

Raja terakhir yang berkuasa adalah Rakai Sumba Dyah Wawa. Masa pemerintahan Rakai Sumba berakhir dengan tiba-tiba. Apa penyebabnya? Menurut R.W. van Bemmelen, letusan Gunung Merapi sangat dahsyat sehingga sebagian besar puncaknya lenyap. Letusan tersebut juga disertai gempa bumi, banjir, lahar, hujan abu, dan batubatuan yang sangat mengerikan. Bencana alam ini menghancurkan ibu kota Mataram (Medang) dan banyak daerah permukiman di Jawa Tengah sehingga rakyat menganggapnya sebagai pralaya(kehancuran dunia).

Akibat pralaya tersebut, rakyat Mataram (termasuk kerabat raja dan pejabat tinggi Kerajaan Mataram) mengungsi ke arah timur (Jawa Timur). Berdirilah Wangsa Isyana yang dalam perkembangannya membentuk Kerajaan Jenggala dan Kediri.

d. Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan bukti yang ditemukan dapat disimpulkan bahwa kerajaan ini berpusat di Palembang. Kerajaan ini berdiri pada abad VII Masehi. Balaputradewa menjadi raja terbesar di kerajaan ini. Di bawah pemerintahannya, kerajaan ini disegani berkat kekuatan armada lautnya. Sriwijaya juga menjadi pusat perdagangan yang kuat karena terletak di jalur perdagangan nasional dan internasional. Sriwijaya juga menjalin hubungan yang baik dengan negara-negara lain. Kejayaan Sriwijaya berlangsung dari abad IX–XI Masehi. Waktu itu rakyat hidup dengan tenteram. Namun, setelah Balaputradewa meninggal, tidak ada pengganti yang cakap dan mampu mempertahankan kejayaannya. Selain itu, serangan dari Colamandala turut melemahkan kerajaan ini.

e. Kerajaan Singasari

Menurut kitab Pararaton dan Negarakertagama, pendiri dan raja pertama Tumapel (Singasari) adalah Ken Arok. Dia sekaligus sebagai pendiri Dinasti Rajasaatau Dinasti Girindra. Beliau menjadi cikal bakal raja-raja Singasari dan Majapahit.

Setelah membunuh Kertajaya, Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari pada tahun 1222 Masehi. Singasari merupakan salah satu kerajaan Hindu. Pemerintahan di kerajaan ini sering mengalami pergantian. Hal ini dikarenakan dendam keluarga yang turun-temurun dan tidak berkesudahan.

Keturunan Ken Arok yang berhasil membawa Singasari pada masa kejayaannya adalah Kertanegara. Pada masa pemerintahannya, Singasari dapat memperluas wilayah kerajaannya sampai di Sriwijaya dan Semenanjung Melayu.

Pada tahun 1275 Raja Kertanegara mengirimkan tentaranya ke Melayu. Pengiriman pasukan ini dikenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu. Ekspedisi ini berhasil menjalin hubungan persahabatan antara Singasari dan Melayu. Pada tahun 1292 Masehi Singasari diserang oleh Jayakatwang, pewaris takhta Kerajaan Kediri sehingga pertahanan Singasari mulai goyah.

f. Kerajaan Majapahit

Ketika Jayakatwang menghancurkan Singasari, salah seorang menantu Kertanegara, berhasil lolos. Beliau adalah Sanggramawijaya atau lebih dikenal sebagai Raden Wijaya. Prasasti Sukamrta menggambarkan kisah pelarian Raden Wijaya dari kejaran pasukan Jayakatwang hingga ke Madura menemui Aryya Wiraraja. Atas jaminan Aryya Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dari Jayakatwang dan mendapat wilayah di hutan Tarik. Dengan bantuan orang-orang Madura, Raden Wijaya dan pengikutnya mengubah hutan itu menjadi kota yang ramai dengan nama Majapahit. Sepeninggal pasukan Cina, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja.

Dengan demikian, muncullah sebuah kerajaan yang kelak memiliki luas wilayah melebihi luas wilayah Indonesia sekarang. Kerajaan itu bernama Majapahityang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Beliau didampingi oleh mahapatih yang sangat cakap bernama Gajah Mada.

Setelah Hayam Wuruk dan Gajah Mada meninggal, tidak ada pengganti yang cocok untuk meneruskan pemerintahan. Akhirnya, Hayam Wuruk mengangkat putrinya yang bernama Kusumawardhani dan menantunya Wikramawardhana.

Pergantian kekuasaan itu menyebabkan timbulnya Perang Paregregantara Wikramawardhana dan Bhre Wirabumi. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1401–1406. Bhre Wirabumi sebagai putra Hayam Wuruk merasa berhak menduduki takhta Kerajaan Majapahit. Sejak saat itu Majapahit mengalami kemunduran. http://www.harafimulki.com/2015/10/perkembangan-kerajaan-hindu-budha-di-indonesia.html